Yang Dilarang Dalam Berihram

pakaian ihram

Bismillah, Alhamdulillah, Laa haula walaa Quwwata illaa billah

Syariat Islam melarang orang yang ihram melakukan beberapa hal yang akan kami jelaskan dibawah ini :

MENIKAH

Syafi’i, Maliki dan Hambali : Orang yang ihram tidak boleh mengadakan perkawinan, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain, dan tidak boleh mewakilkan orang lain dalam perkawinan, kalau terpaksa melakukannya, maka akad nikahnya tidak dianggap sah. Begitu juga tidak boleh orang yang berikhram menjadi saksi dalam perkawinan.

Imam Abu Hanifah : Boleh mengikat perkawinan dan sah

RUJUK

Hanafi, Maliki, Syafi’i : Bagi yang sedang ihram boleh kembali lagi (rujuk) dengan istrinya yang ditalak dan waktu itu ia masih dalam ‘iddah.

Hambali : Tidak Boleh

BERSETUBUH

Ulama mazhab sepakat bahwa orang yang berihram tidak boleh bersetubuh dengan istrinya, ataupun menikmati istrinya dengan bentuk kenikmatan apapun. Kalau menyetubuhi istrinya sebelum tahallul, maka hajinya batal, tetapi dia tetap harus menyelesaikan hajinya sampai sempurna, kemudian meng-qadha’nya (menggantinya) pada tahun yang akan datang, dengan syarat¬† antara suami istri yang melakukan haji qadha/ itu harus berpisah.

Tentang harus dipisahnya saat pelaksanaan meng-qadha’ haji tersebut

Malili, Hambali : Wajib

Syafi’i, Hanafi : Sunnah

Dam atau Denda dari perbuatan itu, yaitu :

Maliki, Syafi’i dan Hambali : Menyembelih Unta

Hanafi : Menyembelih Kambing

Ulama mazhab sependapat bahwa, bersetubuh setelah tahallul awal, maka hajinya tidak batal dan tidak wajib meng-qhada’nya, tetapi dia harus membayar berkurban Unta (Hanafi dan Syafi’i) sedangkan Maliki : kurban Kambing.

Jika Istri yang melakukannya dengan suka, maka hajinya batal dan harus membayar Dam Unta dan Mengqhada’nya pada tahun berikutnya. Tetapi jika dia melakukan karena secara terpaksa (dipaksa suaminya) dia tidak diwajibkan membayar Dam. Sedangkan Suami dikenakan Dam dua ekor Unta, satu untuk dirinya dan satu untuk istrinya.

Jika istri sudah tahallul dan suami masih berikhram, maka bagi si istri tidak diwajibkan apa-apa dan juga tidak diwajibkan membayar Dam, dan bagi suaminya tidak wajib membayar Dam istri (cukup Dam dirinya sendiri)

 

BERCUMBU

Saat berihram bercumbu (mencium) istrinya tapi tidak sampai keluar mani, maka hajinya tidak batal, menurut kesepakatan semua ulama mazhab, tetapi harus membayar dam Kambing.

Kalau sampai keluar air mani :

Maliki : Hajinya batal.

Mazhab lainnya : Hajinya sah, tetapi wajib membayar Dam seekor Unta.

Jika karena memandang wanita lain, kemudian keluar air mani :

Hajinya tidak batal, hanya dia harus membayar Dam seekor Unta (Syafi’i, Abu Hanifah dan Ahmad) sedangkan Maliki berpendapat, jika melihatnya berulang-ulang dan wanita itu bukan istrinya, maka hajinya batal, dan dia wajib meng-qhada’nya dan membayar Dam Unta.

 

WANGI-WANGIAN

Ulama mazhab sepakat bahwa setiap orang yang berihram (laki-laki / perempuan) diharamkan memakai wangi-wangian. Jika sengaja memakai wangi-wangian maka Dam nya adalah Kambing, baik karena wangi di pakaian ataupun dimakanan. Jika alasan sakit (memakai minyak kayu putih atau sejenis) maka boleh baginya dan tidak wajib membayar Dam.

Jika lupa atau tidak tahu :

Syafi’i : tidak harus membayar Dam

Hanafi dan maliki : wajib membayar Dam

 

BERCELAK

Bercelak dengan celak batu hukumnya makruh, tetap tidak diharuskan membayar Dam, kecuali celak yang harum.

 

MEMOTONG KUKU, RAMBUT DAN POHON

Ulama mazhab sepakat bahwa orang yang berihram tidak boleh memotong kuku, rambut serta mencukurnya, baik rambut yang diatas kepala maupun rambut dianggota tubuh lainnya.

Memotong tumbuh-tumbuhan ulama mazhab sepakat bahwa perbuatan tersebut tidak boleh, bahkan mencabut tumbuh-tumbuhan yang ditumbuhkan Allah (bukan anak Adam) juga tidak boleh, termasuk duri, kecuali tumbuhan al-idzkhir.

Syafi’i : Tidak ada perbedaan kedua tumbuh-tumbuhan (ditumbuhkan Allah ataupun ditanam oleh anak Adam), jika pohon besar Dam sapi dan jika pohon kecil Dam kambing.

Maliki : Orang yang memotong berdosa, tetapi tidak dikenakan Dam.

MEMAKAI INAI / PACAR

Hambali : Bagi yang berihram (laki-laki / perempuan) boleh menyemir dengan Pacar/Inai salah satu anggota tubuhnya, selain rambutnya.

Syafi’i : Boleh, selain tangan dan kaki.

Tetapi banyak yang bersepakat bahwa hukumya makruh, bukan haram.

 

TUTUP KEPALA

Ulama mazhab sepakat bahwa orang yang berihram dilarang memakai tutup kepalanya dengan sengaja.

Syafi’i : Kalau menutup kepala karena lupa, tidak diwajibkan sangsi apapun atas dirinya, Hanafi : bayar Dam

Maliki : Juga tidak boleh menyelam didalam air sampai air merendam kepalanya (kepalanya tidak nampak), tetapi boleh membasuh kepalanya dengan air.

 

MEMAKAI PAKAIAN BERJAHIT

Ulama mazhab sepakat bahwa lelaki yang ihram dilarang memakai pakaian yang berjahit, pakaian bulat seperti sorban, kopiah dan sebagainya. Tetapi boleh untuk wanita, kecuali sarung tangan (tertutup) dan pakaian yang memakai wangi-wangian.

 

BERBUAT FASIK DAN BERTENGKAR

Allah Swt berfirman dalam surat Al-Baqarah 197 :

“.. Dilarang melakukan persetubuhan (rafas), perbuatan fasik (fusuk) dan tidak boleh bertengkar (jidal) didalam haji..”

Al-Rafas : bersetubuh / bercumbu / bercinta

Al-Fusuk : berbohong, mencaci atau maksiat

Al-Jidal : Berdebat atau bertengkar

 

BERBEKAM (BERCANDUK)

Ulama mazhab sepakat bahwa berbekam itu boleh kalau dalam keadaan darurat. Dan empat mazhab memperbolehkan tanpa harus dalam keadaan darurat asal tidak sampai merontokkan atau menghilangkan rambutnya.

 

KUTU

Dalam kitab Al-Mughni dijelaskan : orang yang ihram janganlah membuang kutu, karena hal itu dilarang.

Hambali : Apabila ada yang menentang, membuang, dan membunuh kutu, dia tidak dikenakan sanki

Hanafi : Harus memberikan makanan

Maliki : Dia harus memberikan segenggam makanan

BERBURU

Ulama mazhab sepakat dengan satu suara bahwa orang yang ihram itu diharamkan memburu binatang darat, baik untuk dibunuh atau disembelih, atau untuk sebagai bukti. Begitu juga diharamkan membunuh (memburu) telur dan anak-anaknya.

Tetapi memancing binatang laut dibolehkan dan tidak dikenakan Dam, sesuai firman Allah Swt :

“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu ihram” (QS. Al-Maidah:96)

Ulama mazhab sepakat bahwa bagi yang sedang ihram itu boleh membunuh burung Elang, Gagak, Tikus dan Kalajengking. Sebagian kelompok menambahkan dengan Anjing yang galak dan setiap binatang yang membahayakan.

Sumber : Buku Fiqih Lima Mazhab, Edisi Lengkap, Muhammad Jawad Mughniyah, Cetakan ke 19, Maret 2007

Jika ada kekeliruan atau pendapat lain, boleh disampaikan kepada kami tanpa harus berdebat.. ini hanya sebagai tambahan informasi untuk menambah wawasan kita tetang masalah ihram.

 1,611 total views,  1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat