Larangan Dan Ancaman Wanita Yang Berjabat Tangan Dengan Laki-laki Bukan Muhrim

Bismillah,

Sahabat Mabrur yang dirahmati Allah Swt, berjabat tangan atau bersalaman adalah suatu perbuatan baik, apalagi sesama muslim, satu kampung atau komplek perumahan. Seperti saat momen lebaran,  laki-laki perempuan, saudara dan kerabat jauh dekat berdatangan saling bersalaman. Kalau tidak bersalaman rasanya tidak enak. Tetapi bagaimana dengan perempuan yang bersalaman dengan lelaki lain yang bukan muhrimnya, bagaimana hal ini menurut hukum Islam ? apakah dibenarkan ?.

Salaman

Mari kita simak, beberapa hadits yang dapat kami temukan dibeberapa buku yang membahas tentang bersalaman ini, sbb :

  1. Ma’qil bin Yasar meriwayatkan, Rosulullah Saw bersabda, “Kepada salah satu diantara kalian ditusuk dengan jarum besi, hal itu lebih baik baginya dari pada ia menyentuh wanita yang tidak halal (bukan mahram) baginya” (HR. Ath-Thabrani, al-Kabir, 20/211 dengan sanad yang hasan. Lihat as-Silsilah ash-Shahihah, 226)
  2. Seorang pria datang kepada Nabi Muhammad Saw dan melaporkan, “Ya Rosulullah, Istriku tidak menolak tangan orang (laki-laki lain) yang menyentuhnya“, Muhammad Rosulullah Saw bersabda,”Hendaklah engkau ceraikan saja wanita itu” (HR. Muslim)

 

Begitu kerasnya 2 hadits tersebut diatas, sehingga kita perlu waspadai keluarga dan anak-anak kita dalam bergaul sehari-hari dengan orang-orang yang bukan muhrimnya.

Wanita boleh bicara dengan laki-laki, tetapi sesuai kebutuhan dan menjaga adab-adab sesuai syariat, seperti bicara seperlunya dan bicara dengan nada yang tegas, tidak manja atau mendayu-dayu menggoda. Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab 32, yakni :”…. Maka janganlah kamu tunduk dalam bicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik”. Maksudnya adalah jangan sampai membuat orang terpancing hati atau pikirannya melakukan hal yang buruk.

Dalam sebuah hadits, Anas meriwayatkan, “…Ketika Rosululllah Saw akan dimakamkan, Fatimah berkata kepada Anas, ‘wahai Anas, apakah kalian tega meletakkan tanah keatas jasad Rosulullah Saw ?” (Shahih Bukhori 4462)

Wanita boleh memberi salam kepada laki-laki yang dituakan atau saat ada keperluan ingin bertanya, (misal : Guru, Ustadz, RT, RW, Urusan di kantor, dsb), Ummu Hani’ meriwayatkan,”Aku pernah menghadap Rosulullah Saw pada tahun penaklukan (Makkah). Saat itu aku mendapati beliau sedang mandi, sedangkan Fathimah putri beliau menutupinya. Kemudian aku memberi salam kepada beliau…” (HR. Bukhori no.3171, Muslim no. 336)

Contoh-contoh dalam pergaulan :

  1. Dipasar, saat tawar menawar, gunakan bahasa yang lugas dan jelas (tidak mendayu-dayu atau merayu)
  2. Saat ditanya orang yang tak dikenal, menanyakan alamat dll, dsb, jawab seperlunya saja, misal : bapak belok kanan terus belok kiri.
  3. Jabatan tangan bukan muhrim dengan tetangga atau teman, cukup dengan jarak jauh (cukup dengan isyarat saja), tanpa menyentuh.
  4. Saat menghubungi (via telepon) teman wanitanya, ternyata yang angkat telepon suaminya misal. Segera sampaikan untuk bicara dengan istrinya atau sampaikan saja nanti saya hubungi lagi, atau yang semisal tanpa berpanjang-panjang menambah pembicaraan.

 

Salah satu alasan yang bagus, untuk kita belajar menjalankan sunnah ini, saat orang yang bukan muhrim mau bersalaman dengan kita adalah dengan alasan “maaf saya masih ada wudhu atau yang semisal”, sehingga tidak menimbulkan prasangka buruk bagi mereka yang belum paham tentang hal ini. Semoga Allah Swt merahmati kita semua yang selalu belajar untuk lebih baik lagi, sesuai dengan sunnah.

Demikian, semoga kita semakin hari semakin memahami adab-adab didalam Islam ini, dan kita niat untuk amalkan, InsyaAllah. Wallahu a’lam.

 9,961 total views,  1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat