Ketika Cahaya Allah Semakin Redup, Raih Pertolongan Allah Dengan Ilmu Bayi

Bismillah, Sahabat Mabrur yang dirahmati Allah Swt,

Diawal Muharram ini, mari kita sejenak merenungkan perjalanan hidup kita, dimanakah Allah dalam kehidupan kita, dalam sebuah ceramah di Masjid Muhajirin Bengkong, ustad Windu secara keras mengatakan bahwa “kadang-kadang kita menganggap Allah itu seperti toilet. Kalau sudah kebelet baru ingat”, terdengar sepertinya kasar dan tidak pantas contoh yang dibuat ustad Windu tadi, tetapi sejak beliau sampaikan itu sekitar tahun 2000 sampai sekarang masih terekam baik dalam ingatan saya hingga saat ini. Memang ada betulnya juga yang disampaikan ustad Windu tadi…. Astaghfirullah.. ampuni kami ya Allah.

Sebelum kita lanjutkan, yuk kita ucapkan Subhanallah wa bihamdihi 100x dulu…

Rosulullah Saw bersabda,”Barang siapa mengucapkan ‘Subhanalloh wa bihamdihi’ 100 kali dalam sehari semalam, maka ia akan diampuni segala dosanya, sekalipun dosanya itu sebanyak buih dilautan” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Dalam Al-Quran surah Qoff ayat 16, Allah Swt berfirman yang artinya “Dan sesungguhnya Kami (Allah) telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya“, namun kadang kala kita merasa jauh sekali kepada Allah, yaa… walaupun dekat tapi terasa jauh karena kita ‘jarang menyapa-Nya’, ‘jarang bicara kepada-Nya’ sepereti tak kenal, sehingga terasa jauh. Sholat iya, Dzikir iya, Doa iya, tapi seperti orang ngelindur alias mengigau, tak faham tak tau apa yang diucapkan. Ketika berdoa mulut berucap memuji dan memohon kepada Allah, tapi hatinya berada dipasar, hatinya lagi ingat bos dikantor, hatinya ingat target omzet, dll. Sahabat, Allah selalu meliputi segala kehidupan kita, namun kita kadang lupa bersyukur atas kehadiran Allah. Jadi seperti tidak ada interaski, ibadah kita tidak ada kesan apapun, Astaghfirullah.

Rosulullah Saw bersabda, “Berdoalah kepada Allah dan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah (dari doanya)” (HR. At-Tirmidzi)

 cahaya-allah-9-bulan

Sahabat, sekarang kita perhatikan lagi, semua wanita dalam dunia ini memiliki organ tubuh yang sama, tetapi ketika Allah Swt titipkan janin dalam kandungannya, maka wanita itu Allah berikan plasenta. Dimana plasenta ini adalah sebagai tempat bayi selama 9 bulan dalam kandungan, segala kebutuhan nutrisi dan segala kebutuhannya disediakan oleh Allah Swt. Subhanallah, apa yang terjadi pada bayi yang tak berdaya ini ? mengapa dia bisa hidup selamat, cukup segala kebutuhannya hingga 9 bulan ? coba renungkan…. yaa karena si bayi tadi tawakalnya lurus hanya kepada Allah Swt. Ingatlah perjanjian kita sebelum dilahirkan dalam surat Al-A’raf 172. Si bayi ini cuma kenal Allah Swt, Tawakal nya lurus hanya berharap kepada Allah Swt, sehingga Allah cukupkan keperluannya.

 cahaya-allah-ayah-ibu

Setelah proses tawakal 9 bulan, lahirlah bayi tadi. Dalam tahap ini bayi yang tak berdaya ini tawakalnya masih mantap kepada Allah, dia tidak bisa apapun kecuali cuma bisa menangis. Tetapi anehnya, sedikit dia menangis saja datang pertolongan-pertolongan dari mana-mana, ada yang bawa susunya, ada yang bawa pempersnya dan ada yang lain sebagainya, itulah ilmu bayi, tawakal kepada Allahnya mantap, Allah cukupkan segala kebutuhannya. hasbunallah wani’mal wakiil (cukuplah Allah sebagai penolong, dan Allah penolong terbaik). Tetapi pada tahap ini, dalam masa pertumbuhannya bayi sudah mulai mengenal ‘cahaya lain’ selain cahaya Allah, yakni cahaya Ayah dan Ibunya. Kini selain kepada Allah, sang bayi mulai berharap kepada ayah dan ibunya.

cahaya-allah-full

Pada tahap selanjutnya, semakin tumbuh kembang manusia, pada tingkat dewasa, semakin banyak yang kita kenal, semakin banyak keperluan, semakin banyak orang-orang disekitar kita yang ‘menolong’, semakin bayak cahaya-cahaya yang menyilaukan disekitar kita, sehingga cahaya Allah ‘semakin redup’ dalam kehidupannya, bahkan kadang terlupakan.

cahaya-allah-ambil

Allah Swt Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Allah tak ingin kita jauh terlena akan cahaya-cahaya lain yang menyilaukan, yang kadang kala membuat kita lalai akan cahaya-Nya. Nah… ketika kita kehilangan apasaja yang kita cintai (pekerjaan, keluarga, dsb) bisa jadi itu adalah bentuk kasih sayang Allah Swt, agar cahaya-Nya bisa terang kembali hadir dalam kehidupan kita. 🙂  jadi jangan sampai Allah uji kita dengan berbagai ujian baru ingat Allah!

nabi-yunus-3

Ingatkah kita kisah seorang nabi Allah yang bernama Yunus as. Nabi Yunus as mendapatkan ujian yang sangat berat, setelah meninggalkan kaumnya, Allah murka dan nabi Yunus diberi ujian, yakni ditelan ikan paus, ia merasakan gelapnya didalam perut ikan paus dan pasti tidak nyaman, gelapnya didalam lautan dan gelapnya malam. Nah ketika Allah beri ujian 3x kegelapan barulah nabi Yunus baru ingat kepada Allah swt dan kemudian nabi Yunus bertaubat, dengan taubatnya yang sangat terkenal yakni :Laa ilaa hailla anta subhanaka inni kuntu minadzholimiin (QS. Al-Anbiya:87) artinya : Tiada Tuhan (yang pantas disembah) kecuali Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzolim.

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang memiliki akal. (QS. Yusuf :111)

Sahabat yang dirahmati Allah Swt, paling enak tu kita belajar dari pengalaman, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tetapi ada yang lebih enak lagi dari itu, yakni belajar dari pengalaman orang lain !!!

Semoga kita tidak disibukkan dengan silaunya  cahaya-cahaya kecil disekitar kita, dan kita bisa menemukan dan merasakan ‘cahaya’ Allah Swt yang sesungguhnya selalu hadir setiap sisi kehidupan kita. Wallahu a’lam bissowab, Semoga bermanfaat. Amiin.

 3,176 total views,  3 views today

1 thought on “Ketika Cahaya Allah Semakin Redup, Raih Pertolongan Allah Dengan Ilmu Bayi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat