Hukum Badal Haji

Bismillah,

Sahabat Mabrur yang dirahmati Allah Swt. Sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat muslim di Indonesia tentang Badal Haji ini, apalagi disaat musim haji seperti saat ini, banyak saudara-saudara kita yang melaksanakan badal haji. Apakah hukum badal haji ? berikut kami mencoba menyampaikan beberapa pendapat dan dalil-dalil seputar badal haji, semoga bisa bermanfaat.

Hajj

  1. BADAL HAJI UNTUK ORANG MAMPU (tetapi ada udzur) 
    1. Jika Hajinya Haji Fardhu (Wajib)
      Haji Fardhu adalah haji wajib, yaitu memang belum pernah berhaji sama sekali. Imam Muwafiq dari mazhab Hambali berkata, “Menurut Ijma’ ulama, seseorang yang mampu menunaikan ibadah haji fardhu dengan dirinya sendiri, ia tidak boleh minta digantikan orang lain dalam melaksanakannya” Imam Ibnu Mundzir berkata, “Para ulama sepakat bahwa orang yang sudah wajib melaksanakan haji (fardhu) dan mampu melaksanakannya sendiri, ia tidak boleh mewakilkannya kepada orang lain atas nama dirinya
    2. Jika Hajinya Haji Tathawwu’ (Sunnah)
      1. Jika orang itu belum pernah menunaikan haji fardhu, tidak boleh baginya mewakilkannya berhaji kepada orang lain dalam pelaksanaan ibadah haji sunnah, karena haji sunnah itu sendiri tidak sah dikerjakan olehnya (selama belum menunaikan haji fardhu)
      2. Jika orang itu sudah pernah menunaikan haji fardhu, ada 2 pendapat :
        1. Hukumnya boleh, itu pendapat Imam Abu Hanifah dan salah satu dari 2 riwayat mazhab Hambali. Mengingat haji itu nilainya sunnah yang ia sendiri tidak wajib menunaikannya, boleh baginya mewakilkan haji itu kepada orang lain.
        2. Hukumnya tidak boleh, itu adalah pendapat Imam Syafi’i, dan pendapat nomor dua dari kalangan mazhab Imam Hambali. Adapun menurut mazhab imam Maliki, “Tidak boleh sama sekali dalam keadaan mampu secara fisik atau lemah”
  2. BADAL HAJI UNTUK ORANG YANG TIDAK MAMPU (al-Ma’dhub)
    Al-Ma’dhub adalah kondisi orang yang sudah lanjut usia dan keadaannya parah atau sakit yang tidak mungkin dapat sembuh kembali. Ada 2 pendapat dikalangan para ulama tentang badal haji al-Ma’dhub ini :

    1. Pendapat pertama, Mayoritas ulama berpendapat bahwa siapa saja yang pada mulanya mampu menunaikan ibadah haji lalu menjadi tidak mampu melaksanakannya karena sakit yang tidak mungkin sembuh atau karena faktor usia lanjut, wajib baginya mewakilkan hajinya kepada orang lain untuk melaksanakan haji atas dirinya. Pendapat itu disampaikan oleh Imam Tsauri, Ibnul Mubarok, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan Imam Ishaq sebuah hadits yg panjang meriwayatkan “Seorang perempuan berkata, “Wahai Rosullah! sesungguhnya Allah Swt telah mewajibkan ibadah haji kepada hamba-Nya, sedangkan saya melihat bahwa ayah saya itu sudah tua dan tidak dapat duduk dengan sempurna dikendaraan. Apakah saya boleh berhaji atas namanya?” Rosulullah Saw menjawab,”Ya!” Peristiwa itu terjadi pada saat haji Wada'” (HR. Imam Bukhori dan Imam Muslim)
    2. Pendapat kedua, Imam Malik, Al-Laits dan Imam Hasan bin Shalih berpendapat, “Seseorang tidak boleh menunaikan haji atas nama orang lain kecuali atas nama orang yang sudah meninggal dan belum melaksanakan haji fardhu“. Imam Malik berkata, “Tidak ada kewajiban haji bagi orang itu kecuali ia mampu melaksanakannya sendiri karena Allah Swt berfirman, “…bagi orang yang mampu menempuh perjalanan haji” sedangkan orang yang tidak mampu Imam Ibnu Rusyd meriwayatkan pula pendapat seperti itu dari Imam Abu Hanifah, “Pendapat yang masyur dari Imam Abu Hanifah adalah berlawanan dengan pendapat pertama itu.
      Dalam kitab Mushannaf karya Ibnu Abi Syaibah, ada riwayat dari Ibnu Umar ra, bahwa beliau pernah berkata, “Seseorang tidak boleh berhaji atas nama orang lain seperti seseorang tidak boleh berpuasa atas nama orang lain”
  3. BADAL HAJI UNTUK ORANG YANG ADA HARAPAN SEMBUH (orang yang menjadi tahanan dan sejenisnya)
    1. Pendapat pertama, Imam Al-Muwaffaq berkata dalam kitab al-Mughni, “Siapa dari saja yang diharapkan dapat sembuh kembali dari sakitnya atau menjadi tahanan dan seumpanya, tidak berhak meminta bantuan orang lain untuk menggantikannya menunaikan haji. Pendapat itu disampaikan juga oleh Imam Syafi’i.
    2. Pendapat kedua, Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa orang itu berhak meminta bantuan kepada orang lain untuk menggantikannya melaksanakan haji, dan ini adalah langkah-langkah untuk berjaga-jaga. Jika ia ternyata mampu ia harus melaksanakan sendiri. Jika tidak, haji yang diwakilkannya tadi sudah cukup karena ia tidak mampu melakukannya sendiri. Ia seperti orang yang sudah putus asa dari kesembuhannya.
    3. Pendapat ketiga, Imam Nawawi berkata dalam kitab al-Majmu’, “Adapun orang sakit, keadaanya harus dilihat dulu. Jika masih ada harapan sembuh, tidak boleh ada orang lain yang berhaji mewakilinya karea ia belum putus asa untuk menunaikan haji sendiri”
  4. BADAL HAJI UNTUK ORANG YANG SUDAH MENINGGAL DUNIA 
    1. Pendapat Pertama, Wajib bagi ahli mayit untuk mengeluarkan biaya untuk menunaikan haji atas namanya diambil dari harta si mayit. Itu adalah pendapat Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, demikian pula Imam Hasan, Thawus dan Auza’i, Tsauri, Abi Tsaur dan Ishaq. Imam Ibnu Hajm berkata dalam kitabnya al-Muhalla, “Pendapat seperti itu diriwayatkan pula dari Abu Hurairah, Sa’id bin Musayyib, Sa’id bin Jubair, Ibrahim an Nakha’i dan Imam Atha’. dalilnya adalah sbb :
      “Dari ibnu Abbas ra, “Seseorang perempuan telah datang menemui Rosulullah Saw lalu bertanya, “Ya Rosulullah! ibuku telah bernazar akan menunaikan ibadah haji, tetapi ia tidak sempat menunaikan sampai wafatnya. Apakah aku boleh berhaji atas nama ibuku?” Rosulullah Saw menjawab, “Ya, berhajilah engkau atas nama ibumu! Bagaimana pendapatmu jika ibumu itu punya utang, apakah engkau akan membayarnya? Bayarlah utangnya kepada Allah Swt karena Allah adalah Dzat yang harus dipenuhi utangnya” (HR. Imam Bukhori)
      Dari Ibnu Abbas ra, “Seseorang perempuan bertanya kepada Rosulullah Saw tetang bapaknya yang sudah meninggal dunia, tetapi belum sempat berhaji” Rosulullah Saw menjawab, “Berhajilah atas nama bapakmu” (HR. Imam Nasa’i)
    2. Pendapat kedua, Imam Ibnu Qudamah berkata dalam kitab al-Mughni bahwa Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat, “Tidak boleh berhaji atas nama si mayit, kecuali ia sediri berwasiat tetang pelaksanaan haji itu. Biaya haji diambil dari 1/3 dari harta peninggalannya”. Pendapat itu diriwayatkan pula oleh Imam as-Sya’bi, Imam an-Nakha’i dan Hamad bin Abu Sulaiman.
    3. Pendapat ketiga, dalam kitab Aujaz Masalik disebutkan permasalahan itu dikalangan ulama mazhab Hanafi memiliki penjelasan yang lebih rinci. Imam al-Qori berkata, “Syarat keempat dalam menghajikan orang lain adalah adanya perintah sebelumnya dari si mayit. Jadi tidak boleh adanya orang lain berhaji atas si mayit tanpa ada perintah darinya, itupun jika ia mewasiatkan supaya dihajikan”
    4. Pendapa keempat, dalam kitab Aujaz Masalik pengarang menjelaskan bahwa Imam al-‘Ainy berkata, “Kesimpulan tentang hal ini dalam kalangan mazhab Maliki dirangkum dalam 3 pendapat, pendapat 1 : “Tidak dibolehkan”, pendapat 2 : “boleh atas nama anak (jika yang meninggal anak kecil) dan pendapat 3 : “Boleh, jika si mayit sebelumnya berwasiat tentang haji

Demikianlah penjelasan tentang badal haji ini, semoga dapat menambah wawasan dan keyakinan kita tentang ilmu ba’dal haji ini. InsyaAllah.

Sumber : ensiklopedia haji dan umroh (petunjuk lengkap tata cara pelaksanaan ibadah haji dan umroh) oleh KH. Mohamad Hidayat, MBA

 1,949 total views,  3 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat