Bolehkah Kencing Berdiri

Bismillah,

Sahabat Mabrur yang dirahmati Allah Swt. Pada zaman sekarang ini, di mall dan tempat-tempat umum lainnya banyak kita temui toilet-toilet umum yang menyediakan fasilitas tempat kecing berdiri, karena situasi dan kondisi yang demikian, banyak yang melakukan kencing sambil berdiri, dan bagaimana hal ini menurut pandangan Islam.

Toilet

Hukum kencing berdiri :

  1. Tidak boleh, karena hal itu menyebabkan percikan najis serta bertentangan dengan etika kesopanan. Jika dijamin tidak ada percikan najis, maka boleh sambil berdiri. Imam An-Nawawi berkata, “Kencing dalam keadaan duduk lebih aku senangi, namun kencing berdiri dibolehkan. Semuanya ada dalilnya yang kuat dari Nabi Saw”
  2. Hudzaifah ra berkata, “Aku pernah berjalan bersama Nabi Saw, saat kami sampai disuatu tempat pembuangan sampah suatu kaum, beliau kencing sambil berdiri, maka aku pun menjauh dari tempat tersebut. Setelah itu beliau bersabda, ‘Kemarilah’. Aku pun menghampiri beliau hingga aku berdiri disamping kedua tumitnya. Kemudian beliau berwudhu dan mengusap bagian atas khufnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Beberapa Adab-adab buang air :

  1. Sebelum masuk WC membaca basmalah dan isti’adzah. Anas ra berkata, adalah Nabi Saw apabila ingin masuk WC beliau berkata, “Bismillahi Allahumma inni a’uu dzubika minal khubusi wal khobais (Dengan menyebut nama Allah, ya Allah sesungguhnya aku berlindung dengan-MU dari kejahatan setan laki-laki dan setan perempuan)” HR, Al-Jamaah) Mendahulukan kaki kiri saat masuk WC dan mendahulukan kaki kanan saat keluar WC, dan membaca doa Ghufronaka (ampuni kami ya Allah) saat keluar WC.
  2. Tidak istinja’ dengan tangan kanan, sesuai hadits dari Abdurrahman bin Zaid ra, dia berkata, “Salman Al-Farisi ditanya :’Nabi kalian telah mengajarkan kepada kalian bahkan sampai masalah buang hajat’ salman menjawab, ‘Benar’, Nabi melarang kami menghadap Kiblat saat buang air besar atau kecil, melarang istinjak dengan tangan kanan, melarang istinja’ dengan batu kurang dari 3 buah dan agar tidak boleh beristinja’ dengan kotoran atau tulang” (HR. Muslim)
  3. Menyiramkan air dikemaluannya setelah kencing. DariJabir ra berkata, “Jika Rosulullah Saw berwudhu, beliau memercikan dikemaluannya (maksudnya sebelum berwudhu, membersihkan kemaluan terlebih dahulu)” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah).
  4. Dilarang kencing pada air yang tergenang, dari Jabir bin Abdillah ra, “Sesungguhnya Rosulullah Saw melarang kencing pada air yang menggenang” (HR. Muslim)
  5. Membersihkan tangan setelah istinja’. Abu Hurairah ra berkata, “Nabi Saw datang ketempat buang hajat, saya membawakan untuknya air diwadah, lalu beliau beristinja’, kemudian menggosok tangannya ke tanah” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i). Dalam hal ini bisa disesuaikan dengan menggunakan sabun.
  6. Dilarang telanjang, Abu Sa’id Al-Khudri mengemukakan, Rosulullah Saw bersabda, “Janganlah dua orang pergi untuk buang air besar dengan aurat terbuka sambil berbincang-bincang. Sesungguhnya Allah murka terhadap orang yang berbuat demikian itu” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah)
  7. Dilarang bicara, Ibnu Umar ra menyatakan,”Ada seseorang yang melintas tidak jauh dari tempat Rosulullah Saw buang air besar. Lalu orang tersebut mengucapkan salam, namun beliau tidak menjawabnya” (HR. Jama’ah Ahli Hadits, kecuali Bukhori)

 

Kesimpulan : Dibolehkan kencing berdiri, walau kencing duduk adalah lebih baik sebagai sikap hati-hati menjaga kesucian pakaian.

 1,403 total views,  1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat